7 Tips Mengajar Dalam Situasi Covid-19

7 Tips Mengajar Dalam Situasi Covid-19

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. memberikan 7 tips kepada guru dan orang tua dalam mengajar murid atau anak berkaitan dengan situasi wabah virus corana covid-19 yang saat ini tengah melanda dunia, baik itu melalui online (daring) maupun di kelas (offline).

7 Tips Mengajar dari Mendikbud Nadiem Makarim

Saya ingin memberikan beberapa pikiran saya dan juga beberapa tips bagi pengajar baik guru atau orang tua dalam menghadapi kondisi situasi krisis ini, di mana banyak sekali murid-murid kita sekarang belajar dari rumah dan banyak sekali guru-guru mengajar dari rumah.

1. Jangan Stres

Untuk tips yang pertama dan mungkin yang terpenting jangan stres. Ini adalah masa adaptasi, pasti tidak mudah, penuh dengan kebingungan, penuh dengan ketidakpastian. Ini normal, jadi jangan khawatir tapi yakini bahwa cara terbaik untuk belajar satu hal baru adalah untuk keluar dari zona nyaman tersebut, dan itu satu-satunya cara untuk memperbaiki diri.

Jadi walaupun banyak guru orang tua atau pun murid yang masih gaptek atau masih terintimidasi dengan teknologi, tidak apa-apa. Itu perasaan yang normal, tapi yang penting kita setiap hari mencoba untuk mempelajari bagaimana metode yang terbaik karena tidak ada satu jalan untuk menemukan cara yang paling tepat.

2. Membagi Kelas Jadi Kelompok Kecil

Untuk tips yang kedua cobalah membagi kelas menjadi kelompok yang lebih kecil. Ini mungkin bagi banyak sekali guru dan pengajar satu hal yang baru, tapi ini saatnya kita mencoba janganlah takut bereksperimentasi dengan cara-cara baru. Ini adalah kesempatan kita untuk berinovasi.

Banyak pengajar sekarang sebatas memberi assessment (penilaian) saja lalu hasilnya dievaluasi. Ini memang wajar. Dalam situasi yang sulit seperti ini pasti banyak yang main aman saja, berikan tugas secara tertulis dan telah diselesaikan dikoreksi dan diberikan angka. Dan besoknya sama lagi.

Tapi mungkin ada cara lain yang mungkin lebih efektif. Tidak semua murid punya level kompetensi yang sama yang unggul di satu bidang belum tentu unggul di bidang yang lain.

Cobalah membagi kelompok belajar berdasarkan kompetensi yang sama. Contoh 1 hari ada 5 jam mengajar. Kenapa harus seluruh kelas serentak di ajar lewat video call? Kenapa 1 kelas semuanya diberikan tugas yang sama?

Sebagai contoh juga 5 jam mengajar dalam satu hari, itu bisa sebenarnya dibagi menjadi 5 kelompok yang lebih kecil. Masing-masing 1 jam melalui video conference, tapi setiap kelompok fokus kepada topik yang mungkin paling menyulitkan untuk mereka atau topik yang paling menarik bagi mereka.

3. Mencoba Project Based Learning 

Untuk tips ketiga cobalah Project Based Learning. Belajar dari rumah bukan berarti harus belajar sendiri. Kalau kelas seperti yang sebelumnya saya bilang, sudah dibagi menjadi kelompok yang lebih kecil para pengajar bisa memberikan grup Project assessment.

Dengan ini murid-murid itu belajar untuk bertanggung jawab dengan dalam grup yang lebih besar. Angka mereka terikat satu sama satu sama lain dan ini menciptakan suatu tantangan kolaborasi. Mereka terpaksa untuk bekerja sama dan ini melatih empati meeeka dan juga kemampuan mereka untuk mendorong satu sama lain. Dan secara otomatis salah satu profil yang terpenting untuk para siswa yaitu asas gotong royong mereka itu terbentuk.

Jadi membagi kelas menjadi kelompok kecil ini sebenarnya membuka banyak kali kesempatan untuk Project Based Learning yang  luar biasa, dan ini nggak akan langsung lancar. Saya jamin tapi harus mulai dicoba. Jangan remehkan kemampuan anak untuk mengatur dirinya. Jika mereka saling bergantung pada murid lainnya, pasti banyak guru guru dan orang tua yang terkejut melihat level motivasi mereka yang meningkat.

4. Alokasi Waktu Untuk Murid Yang Tertinggal

Tips keempat alokasikan lebih banyak waktu bagi yang tertinggal. Mungkinkah ini kesempatan untuk memberikan fokus yang lebih banyak kepada murid-murid yang tertinggal di kelas sehingga mereka bisa lebih percaya diri saat mereka bergabung lagi di kelas, saat covid 19 krisis ini sudah berakhir.

Jadi mereka bisa mengejar dalam waktu ini. Mungkinkah ini kesempatan emas untuk melibatkan orang tua untuk memahami dan membantu apa tantangan anak-anak mereka yang mungkin tertinggal di kelas yang mungkin pembelajarannya terganggu, atau pun mereka mungkin lebih lambat di satu topik tertentu. Karena ada berapa anak-anak yang jelas punya bantuan yang lebih banyak, yang mungkin lebih independen.

Jadinya, kenapa semua guru dan pengajar harus membagi waktu secara rata antara semua anak? Mungkinkah ini kesempatan untuk benar-benar membantu anak-anak yang lebih tertinggal yang lebih butuh bantuan.

5. Fokus Yang Paling Penting

Tips kelima adalah fokus kepada yang terpenting. Kalau kita mau mengerjakan semuanya, kejar tayang silabus saja pasti akan sub optimal dan tidak akan efektif. Ini saatnya bereksperimentasi dengan alokasi waktu.

Kenapa harus di semua mata pelajaran diberikan waktu yang sama di metode online baru ini?Mungkinkah ini kesempatan untuk mengejar konsep-konsep mendasar yang tadinya tertinggal dari kejar tayang semua topik? Mungkin ini kesempatan emas untuk menguatkan konsep-konsep fundamental yang mendasari kemampuan murid-murid untuk bisa sukses di mata pelajaran apapun. Contohnya seperti literasi dan numerasi atau pendidikan karakter.

6. Sering “Nyontek” Kepada Guru Lain

Tips keenam sering menyontek antara guru. Cuman bercanda! Memang nyontek antara murid itu tidak boleh, tidak bisa dilakukan dan tidak bisa diterima. Tetapi guru harus sering-sering nyontek sama guru lain.

Ada banyak sekali guru-guru berinovasi dengan metode belajar online. Sama seperti murid, ada guru yang lebih cepat ada guru yang lebih lambat beradaptasi dengan teknologi. Jangan ragu-ragu meminta tolong kepada pertolongan dari guru lain. Jangan ragu ragu meminta contoh-contoh atau best practice dari guru-guru yang lain.

Sekarang dengan video conferencing mudah sekali untuk nimbrung ke kelas guru yang lain. Minta izin kepada guru tersebut, “Boleh nggak saya mau observasi kelas Anda melalui video conferencing?” Apa yang guru itu lakukan sebagaimana mereka menyampaikan bahan bagaimana mereka menggunakan fitur-fitur software itu.

Bagi guru-guru yang sudah percaya diri dengan teknologi, ajaklah guru-guru lain masuk ke dalam kelas virtual mereka agar bisa melihat dan memberikan inspirasi kepada mereka. Ini adalah kesempatan emas untuk para guru-guru nimbrung secara digital di dalam virtual room-nya guru-guru yang sudah lebih canggih.

Jadi itu yang saya maksud dengan guru harus sering-sering mencontek guru-guru lain yang lebih canggih di bidang teknologi dan yang sudah berinovasi lebih jauh. Dan tentunya ini akan juga meningkatkan semangat para guru karena mereka bisa melihat di dalam suatu virtual classroom apa yang mereka lakukan berbeda dari kelas yang biasa.

7. Have fun

Dan tips terakhir adalah Have fun (Selamat bersenang-senang). Mengajar itu tidak mudah tapi siapa bilang harus membosankan dan sama-sama saja. Walaupun kita dalam krisis, ini saatnya mencoba hal-hal yang dari dulu mungkin kita masih ragu tapi di dalam hati kita kita rasa ini yang terbaik untuk para murid-murid.

Inilah saatnya kita mendengarkan insting kita sebagai guru dan orang tua dan bukan hanya mengikuti proses adanya seperti murid. Inilah saatnya guru dan orangtua berinovasi dengan melakukan banyak tanya banyak coba dan banyak karya.

Sumber: YouTube KEMENDIKBUD RI

Admin Padamu

Mengingat pentingnya pendidikan bagi semua orang, maka Admin Blog Padamu Negeri ingin berbagi pengetahuan dan informasi seputar pendidikan walaupun dengan keterbatasan yang ada.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *