Agus DS Master Storytelling Indonesia

Posted on

Di Indonesia belum banyak orang yang menekuni bidang mendongeng (storytelling) sebagai profesi utama. Pendongeng (storyteller) Indonesia masih sedikit dan merupakan sebuah pekerjaan yang langka. Storytelling merupakan teknik menyampaikan sebuah cerita dengan cara mendongeng sehingga dibutuhkan keahlian tersendiri agar cerita yang disampaikan menarik, diminati dan dipahami oleh pendengar.

Salah satu pendongeng Indonesia yang sudah dikenal dunia adalah Agus Djafar Sodik yang lebih dikenal dengan nama Kak Agus sehingga banyak orang menyebut sebagai Master Storytelling Indonesia.

Agus DS Master Storytelling Indonesia

KAK AGUS Maestro Pendongeng Indonesia

Agus Djafar Shodiq merupakan anak kelima dari delapan bersaudara dari pasangan Nasuha Effendy dan Siti Fatimah yang lahir pada 4 Desember 1960. Namun pada usia sekitar 6 tahun, orang tuanya bercerai dan ibunya menikah lagi dengan H. Purnama Natasasmita, kepala sekolah sekaligus guru SD. Bakat mendongeng kak Agus DS dikembangkan oleh ayah tirinya.

Saat duduk di bangku SPG IV, Jakarta, kemampuan kesenian Kak Agus semakin matang. Apalagi pihak sekolah memberikan fasilitas untuk menunjang kegiatan kesenian. Segala macam lomba seni suara, lukis, musik, teater ia ikuti, alhasil piala pun menumpuk.

Dunia dongeng mulai ditekuni saat Agus DS memenangkan lomba dongeng untuk SPG dan SGO se-DKI tahun 1979. Dongeng Putri Mili dan Bebek Jenaka hasil ciptaan sendiri serta kostum Abunawas yang juga merupakan karya sendiri berhasil memukau dewan juri dan penonton.

Selepas SPG, Agus meneruskan kuliah di LPKJ (sekarang IKJ). Namun, tawaran mendongeng dan pentas panggung lainnya semakin berdatangan sehingga dia berhenti kuliah. Selain menerima job untuk mendongeng, Agus juga mendapat job mengisi suara di film animasi, menjadi guru TK pada pagi hari dan pembawa acara di bar di malam hari. Bahkan Ibu Tien Suharto memberi penghargaan sebagai guru TK laki-laki pertama di Indonesia.

Jam terbang Kak Agus DS dalam mendongeng sudah cukup lama. Di Taman Impian Jaya Ancol, dongeng-dongeng Agus sudah menghibur anak-anak sejak 1980. Bahkan ada Panggung Boneka Agus DS. Selain mendongeng, Agus pernah mengisi Acara untuk Anak Ruang Angkasa di RRI. Mengisi suara serial kartun Si Huma produksi PPFN, acara Lagu untuk Anak di TVRI, memproduksi acara untuk anak bulanan di TVRI Stasiun Pusat, serial boneka Dede Iyan di TPI, Paket Ramadhan di RCTI, juga acara Kreativitas Anak di TVRI Stasiun Pusat.

Pendongeng Adalah Pendidik

Menurut Agus Djafar Shodiq, pada dasarnya pendongeng adalah pendidik, untuk itu saat mendongeng, dia tidak mencetuskan kata-kata SARA, tidak mengarah pada pornografi, mengajarkan tata krama, dan berpakaian sopan. Selain itu, persiapan mendongeng dilakukan dengan matang serta selalu berusaha mengundang orang tua anak untuk mendampingi anak-anak mereka saat menyimak dongeng-dongengnya, agar tercipta komunikasi.

Agar dongengan dapat dipahami, rahasia teknik mendongeng Agus adalah suara jangan terlalu keras, juga jangan terus-menerus berdiri, karena tinggi kita tidak boleh lebih dari dua kali tinggi anak, supaya mereka tidak takut atau terkejut. Untuk anak balita, gunakan bahasa ibu tetapi suara mereka sendiri, suara anak-anak balita, untuk menjalin kedekatan.

“Anak-anak memang dunia saya,” kata ayah Fian dan suami Fikih Aisyah (yang nama aslinya Yuki Takaoka) serta, pendiri, pemimpin dan pemilik Agus DS Production. Untuk mendukung profesinya, ia memiliki perpustakaan dongeng pribadi di rumahnya, terdiri atas ribuan cerita dari pelbagai penjuru dunia.

Di dunia hiburan anak, mungkin sosok Agus DS tidak begitu dikenal, jika dibandingkan dengan nama Kak Seto. Namun di kancah edukasi dan dongeng dia dikenal pendongeng dunia. Bahkan ditetapkan sebagai salah satu tokoh Anak Nasional bersama Kak Seto, Ria Enes, Ibu Kasur dan Pak Raden.

 

Sosok Agus Djafar Shodiq – Padamu Negeri

Gambar Gravatar
Mengingat pentingnya pendidikan bagi semua orang, maka Admin Blog Padamu Negeri ingin berbagi pengetahuan dan informasi seputar pendidikan walaupun dengan keterbatasan yang ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *