Peta Persebaran Bahasa dan Dialek di Jawa Timur

bahasa di jawa timur

Jawa Timur adalah provinsi yang kaya akan keanekaragaman bahasa dan dialek. Terdapat enam budaya utama yang mempengaruhi variasi bahasa di wilayah ini: Arekan, Mataraman, Pendalungan, Madura, Osing (Blambangan), dan Tengger. Berikut adalah gambaran umum mengenai persebaran dialek-dialek tersebut:

1. Dialek Arekan

Dialek Arekan adalah salah satu dialek utama yang digunakan di wilayah Jawa Timur. Istilah Arekan berasal dari kata ‘Arek’ yang artinya bocah, anak, atau bahasa Inggrisnya ‘guys’. Dialek ini dikenal dengan karakteristiknya yang khas dan penggunaannya yang luas di beberapa daerah. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai Dialek Arekan:

Wilayah Penutur

Dialek Arekan dituturkan di beberapa wilayah utama Jawa Timur, yaitu:

  • Lamongan
  • Jombang
  • Mojokerto
  • Gresik
  • Surabaya
  • Sidoarjo
  • Pasuruan
  • Malang Raya (termasuk Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu)

Karakteristik Dialek Arekan

  • Intonasi Tinggi dan Tegas: Dialek Arekan memiliki intonasi yang tinggi dan tegas, membuatnya terdengar lebih keras dibandingkan dengan dialek lainnya.
  • Kesetaraan dan Egaliter: Meskipun terdengar kasar, dialek ini mencerminkan budaya egaliter di mana setiap individu dianggap setara.
  • Kosakata Khas: Setiap daerah yang menuturkan Dialek Arekan memiliki kosakata khas yang membedakannya dari daerah lain, meskipun tetap dalam satu kelompok dialek.

Contoh Kosakata dan Ungkapan

Berikut beberapa contoh kosakata dan ungkapan dalam Dialek Arekan yang sering digunakan:

  • Cak: Sapaan untuk laki-laki, mirip dengan “mas” atau “bang” dalam bahasa Indonesia.
  • Ning: Sapaan untuk perempuan, mirip dengan “mbak” dalam bahasa Indonesia.
  • Arek: Berarti “bocah” atau “anak”, sering digunakan untuk menyebut anak muda.
  • Rek: Digunakan untuk memanggil atau menarik perhatian teman sebaya, mirip dengan “guys” dalam bahasa Inggris.

Perbedaan Intonasi Antar Daerah

  • Surabaya: Intonasi lebih cepat dan terkesan keras.
  • Malang: Intonasi lebih lembut dibandingkan dengan Surabaya, namun tetap tegas.
  • Pasuruan: Intonasi sedikit lebih lambat dan lebih berirama.

2. Dialek Mataraman

Dialek Mataraman adalah salah satu dialek yang digunakan di wilayah Jawa Timur, dikenal karena variasi regionalnya yang mencerminkan pengaruh budaya dan sejarah yang berbeda. Dialek ini memiliki tiga kelompok utama yang mencakup beberapa daerah. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai Dialek Mataraman:

Kelompok Utama Dialek Mataraman

Dialek Mataraman terbagi menjadi tiga kelompok utama: Mataraman Kulon, Mataraman Pesisir (Aneman), dan Mataraman Wetan.

1. Mataraman Kulon

  • Wilayah Penutur: Ngawi, Madiun, Ponorogo, Pacitan
  • Karakteristik:
    • Mirip dengan dialek Mataraman Solo di Jawa Tengah.
    • Bahasa dan intonasinya lebih halus dan sopan dibandingkan dengan dialek lain di Jawa Timur.
    • Banyak dipengaruhi oleh budaya dan tradisi keraton Mataram yang ada di Yogyakarta dan Surakarta.

2. Mataraman Pesisir (Aneman)

  • Wilayah Penutur: Bojonegoro, Tuban
  • Karakteristik:
    • Memiliki banyak kesamaan dengan dialek Pantura Timur di Jawa Tengah.
    • Dipengaruhi oleh interaksi dengan masyarakat pesisir yang lebih dinamis dan terbuka.
    • Intonasi lebih cepat dan penggunaan kata-kata yang lebih sederhana.

3. Mataraman Wetan

  • Wilayah Penutur: Nganjuk hingga Tulungagung, Trenggalek, Blitar, serta sebagian di Jombang barat, Malang barat laut, barat, dan selatan. Terdapat juga di kecamatan-kecamatan selatan Banyuwangi.
  • Karakteristik:
    • Bahasa dan intonasi yang lebih kental dengan budaya Jawa Timur.
    • Lebih terpengaruh oleh adat istiadat dan tradisi lokal.
    • Bertransisi antara dialek Jawa Tengah dan dialek Jawa Timuran.

Karakteristik Umum Dialek Mataraman

  • Kosakata: Banyak dipengaruhi oleh bahasa Jawa standar, namun dengan variasi regional yang mencerminkan budaya lokal.
  • Intonasi: Bervariasi dari halus dan sopan (Mataraman Kulon) hingga lebih cepat dan dinamis (Mataraman Pesisir).
  • Pengaruh Budaya: Budaya keraton Mataram sangat mempengaruhi Mataraman Kulon, sementara budaya pesisir mempengaruhi Mataraman Pesisir, dan budaya lokal mempengaruhi Mataraman Wetan.

3. Dialek Pendalungan

Dialek Pendalungan adalah dialek yang muncul dari perpaduan budaya Jawa dan Madura, menciptakan variasi linguistik yang unik di Jawa Timur. Dialek ini dituturkan di wilayah yang menjadi titik temu antara penutur bahasa Jawa dan Madura, menghasilkan budaya dan bahasa baru yang khas.

Wilayah Penutur

Dialek Pendalungan dituturkan di beberapa daerah utama Jawa Timur, yaitu:

  • Probolinggo
  • Lumajang
  • Situbondo
  • Bondowoso
  • Jember

Karakteristik Dialek Pendalungan

  • Perpaduan Bahasa Jawa dan Madura: Dialek ini merupakan hasil perpaduan antara bahasa Jawa dan bahasa Madura, dengan pengaruh yang berbeda di setiap wilayah. Di beberapa daerah, bahasa Madura lebih dominan, sementara di daerah lain, bahasa Jawa lebih dominan.
  • Intonasi dan Pengucapan: Pengucapan dalam dialek ini mencerminkan intonasi khas Madura yang dipadukan dengan gaya bicara bahasa Jawa. Hal ini membuat dialek Pendalungan terdengar berbeda dari kedua bahasa asalnya.
  • Kosakata: Mengandung campuran kosakata dari bahasa Jawa dan Madura, dengan beberapa kata yang diserap dan diadaptasi dari kedua bahasa tersebut.

Pembagian Wilayah Dialek Pendalungan

  • Daerah Dominan Jawa: Lumajang bagian barat dan selatan, Jember bagian selatan. Di wilayah ini, bahasa Jawa lebih banyak digunakan, dengan beberapa pengaruh dari bahasa Madura.
  • Daerah Dominan Madura: Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, sebagian Lumajang (bagian utara dan timur), Jember bagian utara dan timur laut. Di wilayah ini, bahasa Madura lebih dominan, meskipun masih terdapat pengaruh bahasa Jawa.

4. Bahasa Madura

Bahasa Madura adalah salah satu bahasa yang dituturkan di provinsi Jawa Timur, Indonesia, dan memiliki sejarah serta karakteristik yang unik. Bahasa ini digunakan oleh masyarakat Madura, baik di Pulau Madura maupun di beberapa daerah di Jawa Timur dan sekitarnya.

Wilayah Penutur

Bahasa Madura dituturkan oleh sekitar 17,53% penduduk Jawa Timur (2010) dan tersebar di berbagai wilayah, yaitu:

  • Pulau Madura: Meliputi empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
  • Surabaya bagian utara
  • Beberapa kecamatan di Malang Selatan
  • Sebagian Pasuruan
  • Mayoritas wilayah Probolinggo
  • Seluruh wilayah Situbondo dan Bondowoso
  • Sebagian Lumajang: Khususnya bagian utara dan timur
  • Jember bagian utara dan timur laut
  • Banyuwangi bagian utara, barat, dan pesisir Muncar
  • Pulau Bawean: Kecuali Desa Diponggo yang dominan berbahasa Jawa
  • Kepulauan Kangean: Terutama di Pulau besar Kangean dan Paliat

Dialek dalam Bahasa Madura

Bahasa Madura memiliki beberapa dialek, di antaranya:

  • Dialek Bawean: Dituturkan di Pulau Bawean
  • Dialek Kangean: Dituturkan di Kepulauan Kangean
  • Dialek Pamekasan-Sumenep: Dianggap sebagai standar bahasa Madura, digunakan di kabupaten Pamekasan dan Sumenep

Karakteristik Bahasa Madura

  • Fonologi: Bahasa Madura memiliki sistem fonologi yang berbeda dari bahasa Jawa, dengan adanya beberapa bunyi konsonan yang khas.
  • Kosakata: Banyak kosakata dalam bahasa Madura yang unik dan tidak ditemukan dalam bahasa Jawa. Terdapat juga serapan dari bahasa Jawa, Melayu, dan bahasa lain.
  • Gramatika: Struktur kalimat dan tata bahasa Madura memiliki aturan tersendiri yang membedakannya dari bahasa Jawa.

Perbandingan dengan Bahasa Jawa

  • Fonologi: Bahasa Madura memiliki bunyi yang lebih tegas dan sering kali menggunakan intonasi tinggi.
  • Kosakata: Banyak kata dalam bahasa Madura yang berbeda secara signifikan dari bahasa Jawa.
  • Budaya: Walaupun berdekatan geografis, budaya Madura memiliki beberapa perbedaan signifikan dengan budaya Jawa, terutama dalam aspek adat istiadat dan kesenian.

5. Dialek Osing (Blambangan)

Dialek Osing, juga dikenal sebagai bahasa Osing, adalah salah satu dialek yang digunakan di bagian timur provinsi Jawa Timur, Indonesia. Bahasa ini memiliki sejarah dan budaya yang kaya, terkait erat dengan suku Osing yang merupakan keturunan Kerajaan Blambangan.

Wilayah Penutur

Dialek Osing dituturkan di beberapa daerah di Banyuwangi dan sekitarnya, yaitu:

  • Banyuwangi: Bagian tengah, timur, dan sebagian selatan.
  • Kantong-kantong desa Osing di Kabupaten Jember: Desa Biting (Arjasa), Desa Kemiri (Panti), Desa Glundengan (Wuluhan), dan Desa Puger.
  • Komunitas Osing di Bondowoso dan Situbondo: Beberapa komunitas kecil yang masih mempertahankan bahasa Osing.

Karakteristik Dialek Osing

  • Lafal O: Salah satu ciri khas bahasa Osing adalah penggunaan lafal “O” yang menggantikan lafal “A” dalam bahasa Jawa. Contohnya, “aku” dalam bahasa Jawa menjadi “aku” dalam bahasa Osing.
  • Arkaisme: Bahasa Osing mempertahankan beberapa arkaisme yang telah ditinggalkan oleh dialek Jawa lainnya, sehingga memiliki kosakata dan struktur yang lebih tua.
  • Fonologi dan Intonasi: Bahasa Osing memiliki intonasi yang lebih lembut dibandingkan dengan dialek Jawa Timur lainnya, dengan penggunaan vokal dan konsonan yang khas.

Perbandingan dengan Bahasa Jawa

  • Fonologi: Bahasa Osing menggunakan beberapa bunyi yang berbeda dari bahasa Jawa, terutama dalam penggunaan vokal.
  • Kosakata: Banyak kata dalam bahasa Osing yang berbeda secara signifikan dari bahasa Jawa, mempertahankan beberapa istilah yang sudah tidak digunakan dalam bahasa Jawa modern.
  • Budaya: Walaupun ada pengaruh budaya Jawa, budaya Osing memiliki banyak aspek yang unik dan khas, termasuk ritual dan kesenian tradisional.

6. Dialek Tengger

Dialek Tengger adalah salah satu dialek bahasa Jawa yang dituturkan oleh masyarakat Tengger di wilayah pegunungan Tengger, yang mencakup beberapa kabupaten di Jawa Timur. Masyarakat Tengger dikenal karena keunikan budaya dan tradisinya yang masih sangat kental dan berbeda dari daerah lain di Jawa Timur.

Wilayah Penutur

Dialek Tengger dituturkan di wilayah pegunungan Tengger yang mencakup:

  • Barat daya Probolinggo
  • Tenggara Pasuruan
  • Timur Malang
  • Barat laut Lumajang

Karakteristik Dialek Tengger

  • Arkaisme: Dialek Tengger masih mempertahankan banyak bentuk arkais dari bahasa Jawa Kuno yang sudah tidak digunakan dalam dialek-dialek Jawa lainnya.
  • Lafal A: Seperti dialek Banyumasan dan Cirebon, dialek Tengger mempertahankan lafal A dalam pengucapannya. Contoh: “bapak” tetap “bapak” (tidak berubah menjadi “bapak” dengan intonasi yang berbeda).
  • Fonologi: Dialek Tengger memiliki intonasi yang lebih datar dan pengucapan yang lebih jelas dibandingkan dengan dialek Jawa lainnya.
  • Kosakata: Banyak kosakata dalam dialek Tengger yang tidak ditemukan dalam dialek Jawa modern, menggambarkan kehidupan agraris dan adat istiadat setempat.

Perbandingan dengan Bahasa Jawa

  • Fonologi: Pengucapan dalam dialek Tengger lebih jelas dan menggunakan lafal A, berbeda dengan beberapa dialek Jawa lain yang menggunakan lafal O atau perubahan intonasi lainnya.
  • Kosakata: Banyak kosakata yang masih mempertahankan bentuk-bentuk kuno dan tidak ditemukan dalam dialek Jawa modern.
  • Budaya: Masyarakat Tengger memiliki adat istiadat dan kepercayaan yang berbeda, dengan pengaruh kuat dari agama Hindu dan tradisi leluhur mereka.

7. Bahasa Bajo/Bajau

Bahasa Bajo, juga dikenal sebagai bahasa Bajau, adalah bahasa yang dituturkan oleh masyarakat Bajo, sebuah suku nomaden laut yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Timur. Masyarakat Bajo terkenal dengan keterampilan maritim mereka dan gaya hidup yang erat kaitannya dengan laut.

Wilayah Penutur

Bahasa Bajo dituturkan di beberapa wilayah, terutama di gugusan Kepulauan Kangean, yang secara administratif masuk Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Namun, secara geografi, kepulauan ini lebih dekat ke Pulau Bali. Berikut adalah beberapa wilayah penutur bahasa Bajo di Jawa Timur:

  • Pulau Sapeken: Bagian dari gugusan Kepulauan Kangean.
  • Pulau-pulau sekitarnya di Kepulauan Kangean: Termasuk Pulau Kangean besar dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Karakteristik Bahasa Bajo

  • Fonologi dan Intonasi: Bahasa Bajo memiliki sistem fonologi yang berbeda dari bahasa Jawa dan Madura, dengan intonasi yang khas dan bunyi konsonan serta vokal yang unik.
  • Kosakata: Banyak kosakata bahasa Bajo berkaitan dengan kehidupan maritim dan laut, mencerminkan budaya dan mata pencaharian utama masyarakat Bajo.
  • Dialek: Bahasa Bajo memiliki beberapa dialek yang bervariasi tergantung pada lokasi geografis dan komunitas penuturnya.

Perbandingan dengan Bahasa Lain

  • Fonologi: Bahasa Bajo memiliki bunyi konsonan dan vokal yang berbeda dari bahasa-bahasa di daratan seperti bahasa Jawa atau Madura. Intonasi bahasa Bajo juga lebih bernada dan bergelombang, mencerminkan pengaruh kehidupan laut.
  • Kosakata: Banyak kosakata yang berkaitan dengan laut dan kehidupan maritim, yang tidak ditemukan dalam bahasa-bahasa darat.
  • Budaya: Masyarakat Bajo memiliki tradisi dan adat istiadat yang unik, berbeda dengan masyarakat darat, mencerminkan kehidupan mereka yang erat kaitannya dengan laut.

Peta persebaran ini memberikan gambaran umum mengenai wilayah penutur dan karakteristik masing-masing dialek dan bahasa di Jawa Timur, meskipun tidak mencakup kantong-kantong bahasa yang lebih kecil atau spesifik.

 

Peta Persebaran Bahasa dan Dialek di Jawa Timur

Admin Padamu

Mengingat pentingnya pendidikan bagi semua orang, maka Admin Blog Padamu Negeri ingin berbagi pengetahuan dan informasi seputar pendidikan walaupun dengan keterbatasan yang ada.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *