Cara Membuat Lubang Resapan Biopori (LRB)

Lubang Resapan Biopori (LRB) merupakan teknologi tepat guna yang diciptakan Ir. Kamir Raziudin Brata M.Sc, seorang dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB, sebagai salah satu solusi manajemen air yang dapat dilakukan dengan sangat mudah, sederhana dan sekaligus murah.

Lubang Resapan Biopori adalah lubang silindris yang dibuat vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman sekitar 80-100 cm. LBR kemudian diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya porositas tanah oleh aktivitas organisme tanah dan atau akar tanaman.

Beberapa manfaat lubang biopori adalah sebagai media peresapan air, pengkomposan dan peningkatan kesuburan tanah. LRB dapat menjadi tempat pembuangan sampah organik seperti dedaunan, sampah dapur, potongan rumput, serbuk gergaji dll.

 

Membuat Lubang Resapan Biopori

Metode pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) sangatlah mudah dan murah, tahapan pembuatannya adalah sebagai berikut:

  1. Buat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah berdiameter 10 cm dan kedalaman kurang lebih 100 cm dengan menggunakan bor tangan khusus. Kedalaman lubang dapat disesuaikan dengan tidak melebihi muka air tanah dangkal.
  2. Atur jarak antar lubang minimal sekitar 50-100 cm.
  3. Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen atau pipa setebal 2-3 cm.
  4. Isi lubang dengan sampah organik seperti sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, pangkasan rumput, serbuk
    gergaji dll. kemudian tutup dengan kawat kasa
  5. Tambahkan kembali sampah organik selang beberapa waktu setelah volume sampah dalam lubang berkurang
    akibat terjadinya proses dekomposisi.
  6. Kompos yang terbentuk dapat diambil dan dipakai sebagai pupuk tanaman.
  7. Lakukan pemeliharaan lubang pada saat pengambilan kompos.

Lokasi Pembuatan

Lubang Resapan Biopori (LRB) dapat dibuat di dasar saluran penampung air hujan, di sekeliling batang pohon, taman dan pekarangan rumah. LRB juga dapat dibuat pada tanah kosong yang tidak termanfaatkan

Jumlah Biopori yang Disarankan

Jumlah Lubang Resapan Biopori (LRB) dapat pula disesuaikan dengan tujuan utama pembuatannya. Jumlah LRB yang disarankan dapat ditentukan dengan persamaan di bawah.

Jumlah Lubang Resapan Biopori

Contoh, untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat) dengan luas bidang kedap 100 m2 dan laju peresapan air per lubang mencapai 4 liter/menit (240 liter/jam) setidaknya diperlukan LRB sejumlah 21 buah.

Jika pembuatannya diperuntukkan sebagai tempat penyerapan air sekaligus pengomposan sampah domestik keluarga, maka jumlah LRB minimum ditentukan dengan jumlah terkecil dari rumus di atas.

Sebagai contoh, sebuah rumah berpenghuni 4 orang yang berada di Jakarta memerlukan jumlah LRB minimum untuk pengomposan sebesar 24. Angka tersebut diperoleh dari data rerata timbulan sampah di Jakarta mencapai 2,6 liter/orang/hari dengan komposisi 74 % organik dan asumsi proses dekomposisi memerlukan waktu 56 hari.

Lubang LRB yang dibuat berdiameter 15 cm dan dalam 100 cm. Jadi, untuk mengfungsikan LRB dengan dua fungsi utama, maka tidak diperlukan 21 buah tetapi 24 buah lubang. Setiap lubang akan penuh terisi sekitar 2 hingga 3 hari. Selama selang waktu setelah LRB terakhir penuh, maka LRB pertama akan menyusut volumenya atau bahkan dapat diambil produk komposnya. Sampah organik dapat dibuang ke dalam LRB pertama dan demikian berlangsung untuk LRB selanjutnya.

 

Lubang Resapan Biopori (LRB) – Padamu Negeri

Admin Padamu

Mengingat pentingnya pendidikan bagi semua orang, maka Admin Blog Padamu Negeri ingin berbagi pengetahuan dan informasi seputar pendidikan walaupun dengan keterbatasan yang ada.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments (1)